Membandingkan Novel Tahun 20-30an
Novel 1 : Katak Hendak Jadi Lembu
Dalam novel karya Nur Sutan Iskandar ini berkisah tentang seorang keturunan bangsawan Sunda yang tidak mau bekerja keras. Ia sangat bangga dengan kebangsawanannya.
Cerita yang berlatar daerah Sunda ini berkisah tentang Haji Hasbullah (seorang haji yang sangat kaya) dengan berat hati menerima lamaran Haji Zakaria (temannya, seorang haji yang sangat kaya juga) yang hendak mengambil Zubaedah sebagai menantunya. Zubaedah hendak dikawinkan dengan Suria, anak haji Zakaria. Haji Hasbullah sebenarnya tidak rela Zubaedah kawin dengan Suria, karena Suria memiliki sifat yang sombong dan suka hura-hura. Namun Haji Hasbullah tidak kuasa menolah keinginan Haji Zakaria karena hubungan baik mereka.
Apa yang dikhawatirkan Haji Hasbullah benar-benar menjadi kenyataan. Setelah menikah dengan Zubaedah, tingkah laku Suria tidak juga berubah. Dulu Haji Hasbullah menerima Suria sebagai menantu karena Haji Zakaria (ayah Suria) adalah sahabatnya sejak kecil. Sehingga perkawinan anak mereka bukan semata-mata karena cinta, tetapi karena permintaan Haji Zakaria. Bagi Zubaidah sendiri, perkawinan itu dilakukannya karena rasa hormat kepada orangtuanya. Tingkah laku Suria benar-benar kelewatan setelah ayahnya, Haji Zakaria meninggal, dan harta warisan jatuh ke tangnnya. Lelaki itu hanya berfoya-foya menghabiskan harta warisan ayahnya. Ia tidak pernah memperhatikan istrinya. Bahkan Suria tega meninggal istrinya yang sedang mengandung. Ia pergi selama tiga tahun sehingga ia tidak tahu ketika Abdulhalim, anaknya lahir.
Setelah hartanya habis ludes, dengan tak tahu malu Suria datang menyembah-nyembah Haji Hasbullah, minta belas kasihan. Dan dengan mulut manis ia mengaku salah kepada Zubaidah. Demikian Suria kembali ke pangkuan Zubaidah. Namun temyata sifat tinggi hatinya tak juga hilang. Setelah ia menjabat Menteri Kabupaten, penghasilannya tak pernah sampai di rumah. Sekolah Abdulhalim tak dibiayainya. Maka Abdulhalim dibawa kakek neneknya untuk disekolahkan.
Seringkali Zubaidah berkirim surat kepada anaknya, Abdulhalim. Uang sekolah Saleh dan Aminah, adiknya Abdulhalim belum terbayar, belanja dapur tak berkecukupan, hutang makin menumpuk di sana-sini. Semua itu karena ulah Suria yang selalu menuruti hawa nafsu. Tak pemah ia memikirkan anak-anaknya. Sering pula penagih hutang datang ke rumah. Namun karena tak ada uang simpanan, maka Zubaidah pura-pura tidur dan merenungi nasib buruknya. Ingin rasanya ia keluar dari neraka itu, pergi bersama anaknya ke rumah orangtuanya. Tetapi tiapkali ia sadar. Bahwa sebagai seorang isteri yang harus bakti kepada suaminya, ia tak boleh meninggalkannya; apa pun yang terjadi.
Karena sudah tak tahan lagi dan semakin menggunungnya hutang, maka Zubaidah menyerahkan segalanya kepada suaminya. Suria malu, namun sifat sombongnya tak juga berubah. Begitulah jadinya orang yang gila hormat, gila pangkat sedang kebutuhan keluarga terbengkalai.
Zubaidah semakin tersiksa hidupnya. Tak pemah ia merasakan suka cita. Segalanya serba pedih perih. Karena malu akan cemoohan orang, ia pun bertekad untuk meninggalkan kota Sumedang. Abdulhalim sendiri kini telah hidup berumah tangga dan bahagia. Ketika ayahnya menulis surat kepadanya, ia pun bersedia menerima seluruh keluarga itu: ayah ibu dan adik-adiknya. Hati Zubaidah semakin teriris lantaran malu pada anaknya meskipun Abdulhalim tak pernah merasakan kasih sayang bapaknya.
Di pihak lain kesombongan Suria tak juga hilang. Meski ia hidup menumpang di rumah anaknya, ia ikut campur tangan dalam masalah keluarga anaknya. Segala yang dirasanya kurang selalu dicela. Ia memerintah layaknya yang punya rumah saja. Hal inilah yang mengawali pertengkaran antara Abdulhalim dengan isterinya. Beban hati Zubaidah semakin berat. Ia kasihan keluarga anaknya menjadi berantakan gara-gara kelakuan ayahnya. Karena kesedihan yang berlarut-larut akhimya Zubaidah meninggalkan dunia. Betapa sedih hati anak-anaknya kehilangan ibu yang berhati mulia itu. Terutama Abdulhalim. Ia tahu, semua ini disebabkan oleh ulah ayahnya, Suria yang tak tahu diri itu.
Maka marahlah Abdulhalim. Dan karena malu kepada anak dan mertuanya Suria pun angkat kaki dari rumah anaknya. Segala cita-cita yang diinginkannya: pangkat, kehormatan, kemewahan, dan kesenangan itu musnah sudah. Itulah akibatnya kalau katak hendak jadi lembu.
Nilai yang terkandung dalam kutipan novel :
· Nilai positif :
1. Sikap seorang ibu yang sangat mulia dan sabar, sayang kepada anak-anaknya dan berbakti pada orang suaminya
2. Seorang anak yang mencintai orang tunya dan penuh balas budi
3. Seorang ibu yang ingin anaknya mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi supaya bisa mempertahankan negara dimasa yang akan datang
· Nilai negatif :
1. Seorang kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab
2. Orang yang merindukan pangkat, kehormatan, pujian dan kekayaan tanpa mau bekerja keras
3. Kegiatan menghamburkan-hamburkan uang, dan berfoya-foya
Adat/kebiasaan yang terkandung dalam kutipan novel :
1. Di daerah Sunda dalam menentukan pasangaan hidup masih dengan cara dijodohkan
2. Orang yang berpangkat dan kaya akan dihormati
Etika yang terkandung dalam kutipan novel :
1. Seorang istri harus berbakti pada suami dan tidak meninggalkan suaminya apapun yang terjadi
2. Anak mematuhi keputusan orang tua sebagai tanda penghormatan (Zubaidah mau dijodohkan)
Pepatah yang menggambarkan isi novel :
1. Lebih besar pasak dari pada tiang
2. Hilang bangsa dan negeri karena tiada berpengatahuan
Amanat yang terkandung dalam novel :
1. Manfaatkan hidup sebaik-baiknya dengan bekerja keras tanpa bergantung kepada orang lain
2. Bertanggung jawablah pada kewajibanmu
3. Jangan gunakan uang untuk keperluan yang tidak penting, apalagi menghamburkannya untuk berfoya-foya
4. Sayangilah orang disekitarmu
Novel 2 : Siti Nurbaya
Dengan maksud yang licik Datuk Maringgih meminjamkan uangnya pada Baginda Sulaiman. Berkat pinjangan uang dari Datuk Maringgih tersebut, usaha dagang Baginda maju pesat. Namun sayang, rupanya Datuk Maringgih menjadi iri hati melihat kemajuan dagang yang dicapai oleh Baginda Sulaiman ini, maka dengan seluruh orang suruhannya, Datuk Maringgih memerintahkan untuk membakar toko Baginda Sulaiman dan toko Bagindapun habis terbakar. Akibatnya Baginda Sulaiman jauh bangkrut dan sekligus dengan hutang yang menunpuk pada Datuk Maringgih.
Di tengah-tengah musibah tersebut, Datuk Maringgih menagih hutangnya, tentu saja Baginda Sulaiman tidak mampu membayarnya. Dengan alasan hutang tersebut, Datuk Maringgih langsung menawarkan bagaimana kalau Siti Nurbaya, Putri Baginda Sulaiman dijadikan istri Datuk Maringgih. Kalau tawaran Datuk Maringgih ini diterima, maka hutangnya lunas. Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya Siti Nurbaya diserahkan untuk menadi istri Datuk Maringgih.
Waktu itu Samsulbahri, kekasih Siti Nurbaya sedang menuntut ilmu di Jakarta. Samsul Bahri tahu bahwa kekasihnya diperistri oleh orang lain. Hal tersebut dia ketahui dari surat yang dikirim oleh Siti Nurbaya kepadanya. Dia sangat terpukul oleh kenyataan itu. Cintanya yang menggebu-gebu padanya kandas sudah. Dan begitupun dengan Siti Nurbaya sendiri, hatinya pun begitu hancur pula.
Tidak lama kemudian, ayah Siti Nurbaya jatuh sakit karena derita yang menimpanya begitu beruntun. Dan, kebetulan itu Samsulbahri sedang berlibur, sehingga dia punya waktu untuk mengunjungi keluarganya di Padang. Di samping kepulangnya kekampung pada waktu liburan karena kangennya pada keluarga, namun sebenarnya dia juga sekaligus hendak mengunjungi Siti Nurbaya yang sangat dia rindukan.
Ketika Samsulbahri dan Siti Nurbaya sedang duduk di bawah pohon, tiba-tiba muncul Datuk Maringgih di depan mereka. Datuk Maringgih begitu marah melihat mereka berdua yang sedang duduk bersenda gurau itu, sehingga Datuk maringgih berusaha menganiaya Siti Nurbaya. Samsulbahri tidak mau membiarkan kekasihnya dianiaya, maka Datuk Maringgih dia pukul hingga terjerembab jatuh ketanah. Karena saking kaget dan takut, Siti Nurbaya berteriak-teriak keras hingga terdengar oleh ayahnya di rumah yang sedang sakit keras. Mendengar teriakan anak yang sangat dicintaianya itu, dia berusaha bangun, namun karena dia tidak kuat, ayah Siti Nurbaya kemudian jatuh terjerembab di lantai. Dan rupanya itu juga nyawa Baginda Sulaiman langsung melayang.
Karena kejadian itu, Siti Nurbaya oleh datuk Maringgih diusir, karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarganya dan adat istiadat. Siti Nurbaya kembali ke kampunyanya dan tinggal bersama bibinya. Sementara Samsulbahri yang ada di Jakarta hatinya hancur dan penuh dendam kepada Datuk Maringgih yang telah merebut kekasihnya. Siti Nurbaya menyusul kekasihnya ke Jakarta, naumun di tengah perjalanan dia hampir meninggal dunia, ia terjatuh kelaut karena ada seseorang yang mendorongnya, tetapi Siti Nurbaya berhasil selamat.
Rupanya, walaupun dia selamat dari marabahaya tersebut, tetapi marabahaya berikutnya menunggunya di daratan. Setibanya di Jakarta, Siti Nurbaya ditangkap polisi, karena Datuk Maringgih mengirim surat telegram dan memfitnah Siti Nurbaya bahwa dia ke Jakarta telah membawa lari hartanya. Namun karena tidak terbukti Siti Nurbaya bersalah akhirnya dia bebas. Tapi tak lama kemudian, akhirnya Siti Nurbaya meninggal karena diracuni oleh orang suruhan Datul Maringgih.
Beberapa waktu kemudian. Samsulbahri yang sudah naik pangkat menjadi letnan dikirim oleh pemerintah ke Padang untuk membrantas para pengacau yang ada di daerah padang. Para pengacau itu rupanya salah satunya adalah Datuk Maringgih, maka terjadilah pertempuran sengit antara orang-orang Letnan Mas (gelar Samsulbahri) dengan orang-orang Datuk Maringgih. Datuk Maringgih meninggal ditempat itu juga, sedangkan letan mas dirawat di rumah sakit.
Sewaktu di rumah sakit, sebelum dia meninggal dunia, dia minta agar dipertemukan dengan ayahnya untuk minta maaf atas segala kesalahannya. Ayah Samsulbahri juga sangat menyesal telah mengata-ngatai dia tempo dulu, yaitu ketika kejadian Samsulbahri memukul Datuk Maringgih dan mengacau keluarga orang yang sangat melanggar adat istiadat dan memalukan itu. Setelah berhasil betemu dengan ayahnya, Samsulbahripun meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal dia minta kepada orangtuanya agar nanti di kuburkan di Gunung Padang dekat kekasihnya Siti Nurbaya. Perminataan itu dikabulkan oleh ayahnya, dia dikuburkan di Gunung Padang dekat dengan kuburan kekasihnya Siti Nurbaya. Dan di situlah kedua kekasih ini bertemu terakhir dan bersama untuk selama-lamanya.
Nilai yang terkandung dalam kutipan novel :
· Nilai positif :
1. Pengorbanan yang besar seorang kekasih untuk mempartahankan cintanya
2. Cinta sepasang kekasih yang tidak tergoyahkan oleh cobaan yang datang bertubi-tubi
· Nilai negatif :
1. Ada orang lain yang berusaha menjadi perusak untuk memecahkan cinta mereka
2. Kelicikan-kelicikan perbuatan seseorang yang pada akhirnya membuat orang menderita hingga meninggal
Adat/kebiasaan yang terkandung dalam kutipan novel :
1. Orang yang sudah menikah tidak boleh berdua-duaan dengan orang lain
2. Masih dilaksanakannya kawin paksa di daerah Padang
Etika yang terkandung dalam kutipan novel :
1. Berbicara sopan santun dan menghormati orang lain
2. Menyayangi keluarga dan menurut pada orang tua ( Siti Nurbaya mau menikah demi keluarganya)
Pepatah yang menggambarkan kutipan novel :
1. Nila setitik merusak susu sebelangga
2. Kalau jodoh itu tak akan kemana
3. Sepintar-pintarnya tupai melompat pasti akan terjatuh juga
Amanat yang terkandung dalam kutipan novel :
1. Kita hendaknya jangan terlalu di kuasai oleh perasan dengan tidak mempergunakan pikiran yang sehat karena akan berakibat hilangnya keperibadian yang ada pada diri kita.
2. Jika hendak memutuskan sesuatu hendaklah pikirkan masak-masak lebih dulu agar kelak tidak menyesal.
3. Siapa yang berbuat jahat tentu akan mendapat balasan kelak sebagai akibat dari perbuatan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar